Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Monday, 16 September 2013

Sekilas tentang sekte/aliran yang ada disekeliling kita

pagi yang cerah, ditandai dengan hangatnya sinar mentari, cahaya emasnya mampu menerangi seluruh sudut jagat, dinginnya embun pagi membawa kesejukan bagi setiap umat, ini adalah contoh dari sekelumit kecil kuasa Tuhan.... salam pagi.

iseng -iseng browsing dipagi hari dan tanpa sengaja menemukan sebuah artikel menarik tentang sekte atau aliran dari sebuah agama yang ada disekeliling kita, lalu aliran apa itu??  langsung saja kita simak ulasannya di bawah ini...

                                                        

①KHAWARIJ 
Kata ini diberikan bagi kelompok penentang tahkim dan menyatakan diri keluar dari barisah Shahabat Ali kw. Mereka bertendensi dg QS.Al-nisa:100,"Keluar dari rumah menuju Allah dan Rasul-Nya".
Sekte ini beranggapan bahwa dari keempat khulafa'ur rasyidin, hanya Abu bakar dan Umar saja yang kepemimpinya dianggap sah. Sedang Utsman dan Ali telah menyimpang dalam politiknya (seperti nepotisme Utsman dan penerimaan tahkim Ali) dan status kekhalifahan keduanya batal. Bahkan mereka berani menghukumi kufur, murtad dan pelaku dosa besar pada sebagian shahabat. Apakah anda punya tetangga seperti ini?

②SYIAH 
Adalah sekte pendukung setia Ali bin abi thalib. Jika peristiwa Tahkim kelompok khawarij mundur dan keluar dari Ali, maka sekte Syiah ini justru bersikap sebaliknya, yaitu setia membela dan mempertahankan kedudukan Ali kw hingga titik darah penghabisan.
Watak politik Syiah berhaluan teokratis, kebalikan dari demokrasi yg dianut khawarij, lawan politik syiah. Sekte ini menganggap imam terakhir mereka -Abu alqasim- sebagai alMahdi yang ditunggu diakhir zaman (namun Mahdi versi syiah ini sampai sekarang belum keluar juga ya?).Menurut sekte ini, seseorang tak dikatakan mukmin jika ia tak mau mematuhi khilafah atau imam. Bahkan kefanatikan pada Ali telah membuahkan dendam kesumat kepada Shahabat Nabi yang tak sepaham dengan Ali, hingga sampai sekarang.Berhati-hatilah bila anda mempunyai tetangga tipe ini :)

③MURJIAH
Sekte ini tampil dengan mengusung ideologi bahwa Shahabat yg ikut terlibat pertikaian itu (peristiwa tahkim) semuanya benar. Nampaknya prinsip inilah sejarah menyebutnya Murjiah, yg artinya orang-orang yg menunda atau menangguhkan.
Lambat laun dengan iklim politik yg kurang kondusif serta gencarnya klaim-klaim takfir yg ditudingkan kelompok khawarij kepada Ali dan Muawiyah, atau Syiah kepada Abu bakar dan Umar, telah menggiring Murjiah masuk pada perdebatan teologis yg menegangkan. Yaitu,-apa dan siapa orang mukmin dan kafir itu?-apakah Khawarij atau Syiah?Sekali lagi berhati-hatilah bila ada tetangga yg menghukumi kafir pada muslim lainya.

④MU'TAZILA
 Adalah sekte rasional atau mendewakan akal yg dipelopori Washil ibn atha' (80-131H/ 699-748M), murid al-hasan al-bashri. Ia juga salah seorang guru imam Hanafi.
Menurut Hasan al-basri, pelaku dosa besar tak dihukumi kafir tapi munafik. Sedang Washil, pelaku dosa besar adalah fasik dan berada diantara kafir dan mukmin. Artinya "dia tidak mukmin tidak pula kafir". Kontroversi antara guru dan murid inilah yang ditengarai munculnya sekte Mu'tazilah ini.
Dalam teologi,sekte ini berkeyakinan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan menciptakan perbuatan amal mereka, bukan Tuhan (sebagaimana kaum Jabariyah). Artinya sekte ini mampu memilih Surga atau Neraka menurut hawa nafsunya.Berhati-hatilah bila bertetangga dg mereka, krn sekte ini sangat disukai oleh mahasiswa yg minim atau jahil agama.

⑤WAHABI-SALAFY 
Wah kalau sekte puritan ini pastilah anda lebih mengetahui seluk beluknya. Krn ciri-ciri mereka yang sok nyunah, padahal jahil bin bahlul dalam agama. Diantara slogannya yang agak rasio mengeruk jama'ah adalah KEMBALI PADA AL-QURAN DAN AS-SUNAH, padahal ini adalah pembodohan umat.
Belum lagi ciri dg istilah memurnikan akidah, seputar Syirik, bidah, khurafat yang menjadi wiridan ustad-ustadnya, bahkan pengikutnya pun tak mau kalah dg ustad-ustadnya.Kalau punya tetangga seperti ini, aku yaqin tak mempan diberi dalil. Solusinya kaploki wae!

 ⑥JUMHUR (MAYORITAS)
 Masyhur disebut Ahlussunah wal jama'ah atau Asya'irah dan Maturidiyah. Kelompok mayoritas ini bersifat netral, Artinya tidak sama dg sekte-sekte diatas.
Golongan ini dalam menilai Shahabat, semua dipandang sama. Maksudnya semua Shahabat musti dihormati krn telah bergaul atau bersentuhan langsung dg Rasulullah, dan tidaklah pantas bagi generasi setelahnya untuk mencaci mereka.
Memang kadangkala membandingkan 1 dg lainnya atau mengunggulkannya. Sebagaimana mengunggulkan Abu bakar dg shahabat lainnya, atau Khulafa'ur rasyidin atas shahabat pada umumnya.
Artinya pengunggulan shahabat ini tidak sampai mengkultuskan sebagaimana sekte Syiah, atau memojokkan sebagaimana sekte khawarij.
Inilah yang dinamakan As-sawad al-a'dzam yang insylh selamat sebagaimana telah dianjurkan oleh Rasulullah pada umatnya.Allah wa rasuluh a'lam.

 itulah sekilas tentang beberapa sekte/aliran yang ada, entah aliran mana yang benar hanya kuasa Tuhan yang tahu. semoga sedikit artikel ini dapat menambah pengetahuan dari para pembaca yang budiman, Salam dari saya yang Hina....

Sunday, 21 April 2013

Cerita Pantun Perginya Pajajaran

sebuah kerajaan dari tanah pasundan dengan raja yang sangat terkenal di seluruh nusantara yaitu Prabu Siliwangi. iya, kerajaan tersebut bernama kerajaanan Pajajaran. ada sedikit cerita dari kerajaan tersebut, cerita ini saya temukan dari salah satu grup yang ada di facebook. cerita ini berjudul
Cerita Pantun Perginya Pajajaran. untuk lebih jelasnya silahkan di baca ceritanya..
                                      



Cerita Pantun Perginya Pajajaran
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

Prabu Siliwangi berpesan kepada para pengikut Pajajaran yang ikut mundur pada saat sebelum beliau menghilang. Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar.
Kalian harus memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini, tapi Pajajaran yang baru, yang berdirinya mengikuti perubahan jaman!
Pilih : aku tidak akan melarang. Sebab untukku, tidak pantas jadi raja kalau rakyatnya lapar dan sengsara.
Dengarkan!
Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan!
Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara!
Yang ingin berbakti kepada yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur!
Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!
Dengarkan!
Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus tahu, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!
Kalian yang di sebelah barat! Telusuri oleh kalian jejak Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan menjadi pengingat dan menyadarkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya.
Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian akan dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan dinanti-nanti, sebab nanti telaga akan jebol! Silahkan pergi! Tapi ingat jangan menoleh kebelakang!
Kalian yang di sebelah utara; Dengarkan!
Kota yang kalian datangi sudah tidak ada, yang kalian temui hanya padang ilalang. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Apabila ada yang memiliki pangkat, akan tinggi pangkatnya, tetapi tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti keturunan kalian bakal kedatangan tamu. Banyak tamu yang datang dari jauh, tapi tamu yang susah dan menyusahkan. Waspadalah!
Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus tingkah lakunya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang memiliki ilmu yang cukup, yang mengerti tentang keharuman yang sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya.
Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang namanya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak!
Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, tetapi menelusurinya harus memakai dasar (amparan). Tapi sayangnya yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong jadi harus sampai edan dulu.
Nanti banyak akan diketemukan, sebagian-sebagian. Sebab keburu dilarang oleh Pemimpin Pengganti!
Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah ANAK GEMBALA. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeueleum dan hanjuang.
Apa yang dia gembalakan?
Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Sebagian disembunyikan, sebab belum waktunya untuk diceritakan. Nanti kalau sudah tiba pada waktunya, banyak yang terbuka dan banyak yang meminta untuk diceritakan.
Tapi harus menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.
Dengarkan!
Yang saat ini memusuhi kita, mereka berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanah kering di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau besar. Nah di situlah, se-negara akan jadi tegalan, tegalan untuk kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota (alun-alun). Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba murah dan cukup makanan (pangan).
Semenjak itu, bajak dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Tinggal tegalan diserbu monyet!
Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh monyet, tempat penyimpanan padi habis oleh monyet, kebun habis oleh monyet, sawah habis oleh monyet, ladang diacak-acak monyet, perempuan hamil oleh monyet. Semuanya diserbu oleh monyet. Keturunan kita takut oleh yang meniru-niru monyet. “Panarat” (ini adalah alat bajak tradisional yang biasanya ditarik oleh kerbau, panarat adalah kepala bajak dan biasanya dipegang oleh petani untuk mengendalikan arah dan laju kerbau, biasanya petani sambil duduk di panarat ini). Sedangkan Wuluku (adalah alat pertanian tradisional yang digunakan untuk meratakan tanah di sawah, biasanya wuluku dipasang di belakang kerbau kemudian ditarik), ditarik keturunan bangsa kita. Banyak yang mati kelaparan.
Dari situ, banyak keturunan kita, yang mengharapkan tanaman jagung, sambil sok tahu membuka caturangga. Mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi. Lalu sayup-sayup dari ujung laut (samudera) utara terdengar gemuruh, Garuda menetaskan telur. Bumi ini bergetar seperti dilanda gempa!
Sementara di negara kita?
Ramai oleh orang yang ingin kabur, keadaan kacau sejadi-jadinya. Monyet-monyet lumpuh. Lalu keturunan kita mengamuk, mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak orang berpangkat memerintah dengan cara yang gila; yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil tumbuh menjadi bapak; yang mengamuk tambah kuat, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Negara kita menjadi sangat ribut/kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, yang kena lempar dan rusak sarangnya. Seluruh Nusantara dijadikan tempat jagal. Tetapi……keburu ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.
Lalu berdiri lagi penguasa/Raja yang berasal dari orang biasa. Tapi memang titisan/keturunan raja. Keturunan raja jaman dahulu yang ibunya adalah seorang putri dari Pulau Dewata. Karena jelas keturunan raja, penguasa baru susah dianiaya!
Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti peran! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya bintang/komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.
Lalu akan ada lagi raja, tapi Raja Buta –kata buta didalam istilah Sunda bermakna ganda, buta = tidak melihat, dan buta = raksasa/genderuwo yaitu sebangsa mahluk gaib yang jahat,tapi dalam bait ini sepertinya mengacu kepada istilah raja yang tidak melihat— yang membuat pintu tapi tidak boleh ditutup, membuat kolam pancuran air di tengah jalan. Memelihara elang di pohon beringin. Dasar raja tidak melihat! Bukan raja raksasa/genderuwo, tapi buta karena tidak melihat, buaya dan serigala, kucing garong dan monyet menggerogoti rakyat yang sedang susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang ditangkap (diporog) –porog adalah semacam alat yang terbuat dari serat pohon pisang yang diletakan di lubang sarang burung untuk menangkapnya– bukan hewannya, tapi orang yang memberikan peringatan tersebut.
Semakin kedepan semakin kedepan, banyak raksasa yang buta tidak melihat, menyuruh kembali untuk menyembah berhala. Jalannya negara tidak beraturan, hukum dan aturan kacau dan terbelit-belit, karena yang mengendalikannya/mengatur wuluku (bajak) bukan petani. Jadi wajar saja bila bunga teratai tidak berisi sebagian, kembang kapas tidak berbuah, padi banyak yang masuk penanak nasi; sebab yang berkebunnya tukang bohong, yang bertani-nya hanya tukang janji-janji belaka, yang pintar terlalu banyak, tapi pinter kebelinger.
Kemudian datang pemuda berjanggut, datangnya cuma sebentar sambil menyandang kantong tua mencoba memperingatkan yang sedang salah langkah, memperingatkan yang sedang kelupaan, tapi tidak ditanggapi. Karena pinternya kebelinger, maunya hanya menang sendiri. Mereka tidak sadar, bahwa saat itu langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian.
Alih-alih ditanggapi, pemuda berjanggut ditangkap lalu dimasukan ke penjara. Lalu mereka mengacak-ngacak dapur orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan. Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang Pajajaran untuk diceritakan. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka sebenarnya yang menjadi gara-gara selama ini.
Penguasa-penguasa buta, semakin hari semakin keterlaluan, melebihi kerbau bule. Mereka tidak menyadari bahwa jaman waktu itu sudah masuk kedalam jaman : jaman hewan. Jaman manusia dikuasai oleh hewan!
Kekuasaan para raksasa (buta) ini tidak berlangsung lama; tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat, banyak rakyat yang kemudian mengharapkan beringin patah di tengah kota. Para raksasa buta akan menjadi tumbal, tumbal karena kelakuannya sendiri.
Kapan waktunya?
Nanti, saat munculnya anak gembala!
Dari situ banyak yang ribut; bermula di satu daerah kemudian semakin lama semakin besar dan meluas ke seluruh nusantara. Orang yang tidak tahu masalah menjadi gila dan ikut-ikutan berkelahi, dipimpin pemuda gendut! Sebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan. Yang serakah ingin dapat paling banyak; yang memang punya hak meminta bagiannya. Hanya yang sadar mereka pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terkena getahnya.
Yang bertengkar lalu berhenti. Mereka baru sadar kalau semuanya tidak mendapatkan bagian. Sebab warisan sudah habis, habis oleh mereka yang menggadaikan.
Para raksasa kemudian menyusup, yang berkelahi menjadi ketakutan, ketakutan difitnah telah menghilangkan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai pintunya setinggi batu, yang beratap oleh pohon handeuleum dan bertiang pohon hanjuang.
Mencari anak tumbal, tadinya hendak meminta tumbal. Tapi, anak gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati.
Dengarkan!!
Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Geger lagi seluruh nusantara. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian anak gembala. Silahkan pergi, tapi ingat jangan menoleh kebelakang!

asal usul nama indonesia

sedikit dari sejarh negara indonesia tercinta ini, ada yang tau dari mana asal usul nama indonesia???  sebagai warga negara yang baik kita harusnya tau dong sejarah dan apa arti dari nama negara kita???  tapi sayangnya banyak di antara kita yang mengabaikan sejarah ini, termasuk juga saya probadi. dan akirnya saya temukan juga pembahasaan tentag asal usul nama indonesia ini. lalu bagaimanakah sejarahya???  langsung di simak yukk...

                                              

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan).
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang) nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang).
Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).
Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi(Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia.

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa
Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”.

Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”.

Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).
Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), mempopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”.

Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa).

Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah(kerendahan peradaban) itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern.

Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.
Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke.

Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
Nama Indonesia Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74,Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain.
Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau).
Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: …. the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama ” Indonesia “agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama ” Indonesia ” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880.

Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah ” Indonesia ” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah ” Indonesia ” itu ciptaan Bastian.
Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu daritulisan- tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakanistilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Makna politis Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula- mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggotaVolksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Disarikan dari tulisan IRFAN ANSHORY
(Penulis, Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”)
**diambil dari diskusi kaskus.co.id
Posting Lama ►
 

Copyright © 2013. Pengembara Sukma -