Showing posts with label spiritual. Show all posts
Showing posts with label spiritual. Show all posts

Friday, 19 September 2014

Mentari Pagi

 
                       
 
~~Suatu pagi seperti biasa aku mengagumi matahari sebagai ciptaan Tuhan dan menikmati hangatnya sinar yang dipancarkannya.... Namun, tidak seperti biasanya sinar mentari yang menyentuh tubuhku pagi itu... terasa nikmat...nikmat sekali... dan aku belum pernah merasakan nikmat seperti itu seumur hidupku...

~~Aku seperti dibuai dengan rasa nikmat yang teramat sangat, terasa melayang hingga aku tidak lagi berasakan bahawa aku sedang berdiri berpijak di bumi... melayang entah ke mana menyatu dalam nikmat cahaya mentari pagi itu...

~~"Mimpikah aku?" Ternyata tidak... aku menyaksikan seluruh alam menatapku dengan senyuman yang terindah yang pernah ku lihat, lebih indah daripada senyuman siapapun yang pernah ku lihat, bahkan senyumnya membuatku terasa bagai dibuai dengan rasa yang tak terucap...

~~Aku bergerak ke arah mentari dan ku rasakan  aku akan berhadapan dengan Sang Mentari, semakin dekat maka semakin luar biasa nikmat yang ku rasakan daripada buaian sinarnya.

~~Ingin ku gapai Sang Mentari, ingin ku peluk dan tak ku lepaskan lagi...lalu saat aku berhadapan dengan Sang Mentari, aku berkata?

~~"Hai Mentari. Mengapa sinarMu terasa nikmat menyentuh kalbuku?"
~~"Hai Mentari, mengapa rasa nikmat ini baru ku rasakan saat ini dan mengapa tidak sejak dulu?"

~~Mentari seakan memahami apa yang ada di benakku... lalu seakan dipeluknya diriku hingga aku tidak mampu lagi berasakan apapun seakan  menjadi sebahagian daripada nikmat itu sendiri...ah indahnya!!

~~Lalu perlahan Sang Mentari melepaskan diriku dan menjauh daripadaku... ku lihat seluruh alam menunduk memberi hormat padaku.... dan ku lihat seluruh alam dan diriku perlahan memancarkan cahaya keemasan yang teramat indah yang berasal dari sinar Sang Mentari...

~~Aku menatap Sang Mentari...seakan Dia berkata kepadaku..."Jangan bersedih, Aku tak pernah menjauh daripada dirimu dan janganlah khuatir tentang apapun kerana Aku bersamamu dan meliputi alam semesta yang menyintaimu."

~~Perlahan sinar mentari terasa hangat di tubuhku dan tidak lagi terasa nikmat, tubuhku bergetar hebat, terduduk, terdiam, dan perlahan aku menangis tersedu-sedu... lalu ku sebut nama Tuhanku berkali-kali seakan tidak mahu berhenti...
p/s: Kisah seorang sufi muda ketika mengalami peristiwa Dzattulhaq..
Sumber: Kitab Kunci Pembuka dan Rahasia Ilmu Ma'rifatullah

Sunday, 3 November 2013

jangan hanya dari kata orang


luasnya lautan bisa diukur, tingginya bulan bisa diketahui dengan pengetahuan, tapi seberapa luas lautan spiritual hanya ia sendiri dan Tuhan yang bisa mengetahuinya. salam pagi..  tulisan di bawah ini adalah salah satu karay dari mbah santri gundul, mengenai sebuah perjalanan hidup dan bagaimana cara untuk menjalaninya. tapi disini saya ganti judulnya dengan jangan hanya dari kata orang.
Pak Tua, apa sebenarnya yang membuat bapak bgt semangat dan terkesan santai ( tdk ngoyo ) menjalani hidup ini, ” aku berseloroh “. Mas, Urip kwi nggur ” sawang sinawang ” sergah pak Tua. Donyo brono dudu ukuran seng biso ndadekno menungso urip bungah utowo seneng, bgt pak Tua menambahkan. Urip kwi biso digawe gampang ugo biso digawe susah. Intine ” Gampange wong Urip kwi, Uripe wong Gampang. Angele wong Urip kwi Uripe wong Angel “.Intine Susah lan seneng kwi ono njerone awake dhewe, dudu onok njabane awak dadine nek jarene piwulang Agomo, Surgo lan Neroko iku yo neng njerone awake dhewe seng wes diraksakno saiki dudu mengko lek wes tumekaning pati.
Sebelum pak Tua melanjutkan pembicaraannya, aku menyela…” Loh, bukannya di dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Surga dan Neraka bisa ditemui di alam akherat nanti pak??? “. Pak Tua menimpali, Lo iku lak jarene Tulisan nok Kitab Suci, opo sampeyan percoyo karo tulisan???. Perkataan pak Tua ini membuatku tertarik untuk melanjutkan diskusi sambil cangkruk di bale panjang sambil ditemani suguhan wedang Kopi. Dengan semangat akupun melanjutkan pertanyaan seperti di bawah ini :
Santri Gundhul : Mengapa orang mesti beragama?
Nelayan Tua : Siapa yang mengatakan mesti?
Santri Gundhul : Sejak kecil aku dinasehati untuk menjadi orang yang taat beragama, karena hanya dengan demikian orang akan masuk surga. Lebih khusus, lagi, aku juga diajari bahwa hanya yang memeluk Islam yang bakal masuk surga.
Nelayan Tua : He, he…dan engkaupun percaya?
Santri Gundhul : Mau tidak mau, karena hanya dengan begitu aku bisa masuk surga. Siapa yang tak ingin masuk surga?
Nelayan Tua : Lantas, apa yang kau maksud dengan surga?
Santri Gundhul : Menurut berita yang kuterima, itu adalah sebuah tempat yang teramat indah, yang didalamnya ada kebun yang indah, sungai mengalir di bawahnya, dan yang paling menarik..ada bidadari-bidadari yang teramat cantik…
Nelayan Tua : Ooooo….jadi engkau berjuang menjadi pemeluk agama yang taat agar bisa menikmati semua itu?
Santri Gundhul : Ya, kurang lebih begitu….
Nelayan Tua : Bagaimana jika semua itu tak ada? Apakah engkau masih akan taat beragama?
Santri Gundhul : aku belum memikirkannya….
Nelayan Tua : Ternyata…engkau itu pribadi yang tak ikhlash..kau berbuat sesuatu karena ada maunya…ada pamrih
Santri Gundhul : Bukan begitu…aku hanya mengikuti apa yang diajarkan kepadaku….
Nelayan Tua : He, he…kini engkau berkilah……Tapi baiklah…apakah yang mengajarkanmu demikian, pernah melihat surga? Apakah mereka tahu pasti bahwa surga itu ada?
Santri Gundhul : aku tak yakin..yang kutahu..mereka mengatakan surga itu ada karena itulah yang dikatakan Kitab Suci…
Nelayan Tua : Oh..jadi, diapun belum pernah tahu dan melihat sendiri…..
Santri Gundhul : Lalu apa salahnya..bukankah yang dikatakan Kitab Suci itu pasti benar?
Nelayan Tua : Yang bilang salah siapa? aku hanya ingin tanya, apakah pemahamanmu, dan pemahaman orang-orang yang mengajarimu tentang yang dikatakan di dalam Kitab Suci itu pasti benar?
Santri Gundhul : Kalau boleh jujur, kemungkinannya bisa benar ya bisa salah…
Nelayan Tua : Lalu, apa yang bisa menjadi tolak ukur bahwa pemahaman itu benar atau salah…
Santri Gundhul : Bukankah..pemahaman terhadap Kitab Suci itu sudah baku? Bukankah semua ulama memahami bahwa memang surga itu seperti yang dikatakan di dalam kitab suci, dan bahwa itu hanya diperuntukkan bagi orang Islam?
Nelayan Tua : Itulah masalahnya….kamu menganggap sesuatu yang cuma merupakan pemahaman, persepsi, hasil olah pikiran, sebagai sebuah kebenaran yang mutlak dan baku…
Santri Gundhul : Lalu…bagaimana semestinya…?
Nelayan Tua : Mari kita bicara tentang sebuah samudera. Menurutmu, bagaimana caranya agar kita bisa tahu tentang samudera itu? Apakah kita sudah punya alat untuk mengetahuinya?
Santri Gundhul : Dengan mataku, aku bisa melihat permukaan samudera yang biru…kadang aku bisa melihat kapal berlayar di permukaan samudera itu…
Nelayan Tua : Baik…lalu apa yang ada di balik permukaan samudera itu? Ada apa di kedalamannya?
Santri Gundhul : aku bisa menduga-duga dengan pikiranku..mungkin di dalamnya banyak ikan…mungkin juga ada terumbu karang..atau barangkali ada kapal selam….
Nelayan Tua : Apakah pasti demikian yang ada di dalam samudera?
Santri Gundhul : Ya belum tentu…..
Nelayan Tua : Satu2nya cara untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam samudera itu kamu harus menyelam..kamu harus masuk ke kedalaman….
Santri Gundhul : Tentu saja…
Nelayan Tua : Lalu, bagaimana caranya agar kamu bisa tahu hakikat surga?
Santri Gundhul : Pertama, aku sekadar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang yang menurutku pintar…Kedua, aku gunakan akalku untuk menduga-duga seperti apa surga itu…Tapi, jelas, aku memang tak akan tahu banyak tentang surga jika begitu…Yang paling mungkin membuat aku tahu kebenaran surga..ya aku harus masuk dulu ke situ..aku harus menyaksikannya langsung….
Nelayan Tua : Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya?
Santri Gundhul : Bukankah itu tak perlu? Bukankah sudah ada kitab suci? Bukankah sudah ada ulama yang membimbing kita?
Nelayan Tua : Kalau kau tak lakukan, kau tak akan pernah tahu kebenaran sesungguhnya…kau hanya akan terus dalam praduga, prasangka….bahkan sejatinya, kau juga tak akan tahu apakah yang selama ini kau yakini, yang kau terima sebagai ajaran dari sekian banyak orang yang kau anggap pandai itu, benar atau salah….
Santri Gundhul : Kamu benar…..tapi mungkinkah?
Nelayan Tua : Di dalam dirimu…sesungguhnya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Santri Gundhul : aku tak pernah mendengar hal itu…
Nelayan Tua : Ha..ha…ha….
Santri Gundhul : Mengapa tertawa..
Nelayan Tua : Kau naif sekali…Kau yakin sekali sebagai pemilik tunggal surga, tapi hal sepele begitupun kau tak tahu…
Santri Gundhul : Ajari aku….aku sadar bahwa aku memang naif..
Nelayan Tua : Untuk bisa menemukan gerbang itu..kau harus melakukan banyak hal: kau harus singkirkan kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu…
Lalu, kau sering-seringlah memasuki alam keheningan..buat pikiranmu diam sejenak..biarkan dirimu berhubungan dengan suara di dalam hatimu…Berikutnya…kau harus berbuat baik kepada semua yang ada di sekitarmu…termasuk kepada pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya…
Santri Gundhul : Berat sekali….
Nelayan Tua : Ha, ha..begitu saja sudah berat kok yakin jadi pemilik surga….
Santri Gundhul : Dalam hati aku misuh misuh pada diriku sendiri…Diampuuuuuuttt…aku memang GEMBLUNG..!!.
Nelayan Tua : Ya sudah, berhubung sudah larut kita akhiri jagongan ini, istirahat dulu bukannya besok kau akan menyelam??? nanti kau akan tahu sendiri keindahan di dalam laut setelah kau menyelaminya sendiri bukan dari cerita2 yg dutuliskan orang lain dlm buku.
Santri Gundhul : Baik pak, terima kasih sudah bersedia menemani dan mengantarkan saya menyelam besok pagi.

semua akan kembali

jangan bersedih hanya karena hilangnya sanak keluargamu, jangan bersedih hanya karena berkurangnya harta bendamu, tapi bersedihlah karena kau menjadi semakin jauh dariNYA. salam pagi, pengembara-sukma.blogspot.com..

                                                

semua akan kembali itu sudah pasti, karena hakekatnya semua ini hanyalah milikNYA dan jika sewaktu - waktu DIA yang mempunyai segalanya ingin mengambil dari kita maka kitapun harus rela dan iklas. hidup didunia ini hanya sementara, dan hidup yang sebenarnya itu adalah nanti saat kita sudah meninggalkan dunia ini, meninggalkan jasad dan tubuh ini.
Dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini, manusia senantiasa dihadapkan pada dua keadaan, bahagia atau sengsara. Perubahan keadaan itu bisa terjadi kapan saja sesuai dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun hanya orang yang beriman yang bisa lurus dalam menyikapi silih bergantinya situasi dan kondisi. Hal ini karena ia meyakini keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tahu akan kelemahan dirinya.
jika seorang manusia sudah mengerti semua itu niscaya dia tidak akan bersedih saat bencana menimpa hidupnya, saat cobaan datang mengujinya, karena ia sudah sadar dan sepenuhnya sadar bahwa dunia ini sesungguhnya adalah pemberian dariNYA, adalah titipan dariNYA, bahkan tubuh dan nyawa juga adalah kepunyaanya.
hidup didunia ini seharusnya kita senantiasa untuk bersyukur dan selalu ingat, syukur terus atas semua pemberiannya, ingat terus akan keagungan nama dan sifat2nya. jangan hanya ingat saat melakukan ibadah saja, karena itu masih belum cukup dan bukan apa - apa jika dibandingkan atas segala nikmatnya. 
sekali lagi ingatlah wahai kawan bahwa semua akan kembali, kembali pada sang pemberi, kembali kepangkuan Illahi dan kembali menyatu pada Yang Satu...  salam pagi dari saya yang hina..

Monday, 16 September 2013

22 prediksi Ali Bin Abi Thalib

lihatlah gugusan awan yang ber arak mengikuti hembusan angin, lihatlah dahan pohon yang melambai - lambai mengikuti arah tiupan sang bayu, rasakan setiap terpaan angin yang menderamu, rasakan dengan hati, sejenak tinggalkan semua aktifitasmu, dan kau akan merasakan sebuah kedamaian, kenyamanan dan ketenangan. panjatkan syukurmu atas semua nikmat yang telah IA berikan....  salam siang.

                                                          

salah satu seorang sahabat Nabi Muhammad yaitu Ali Bin Abi Thalib telah memprediksi kejadian - kejadian yang akan terjadi setelah berakirnya zaman kenabian. dan prediksi tersebut sebagian telah terjadi dimuka bumi ini, terjadi pada semua lapisan masyarakat yang ada di muka bumi ini. lalu apa saja prediksi2nya?? 

22 prediksi Ali Bin Abi Thalib
"Akan datang suatu masa. Aku khawatir terhadap masa itu

1. Dimana keyakinan hanya tinggal didalam pemikiran.

2. Dimana keimanan tak berbekas dalam perbuatan.

3. Banyak orang baik tapi tak berakal.

4.Ada pula yang berakal tapi tak beriman.

5. Ada yang lidahnya fasih tapi hatinya lalai.

6. Ada pula yangkhusyu' tapi sibuk menyendiri.

7. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.

8. Ada pula ahli maksiat tapi rendah hati.

9. Ada yang bahagia tertawa tapi hatinya berkarat.

10. Ada pula yang sedih menangis tapi kufur nikmat.

11. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat.

12. Ada pula yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

15. Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan.

16. Ada pula pelacur tapi menjadi figur.

17. Ada yang memiliki ilmu tapi tidak paham.

18. Ada pula yang paham tapi tidak menjalankan.

19.Ada yang pintar tapi membodohi. 
20. Ada pula yang bodoh tapi tidak tahu diri.

21. Ada yang beragama tapi tidak berakhlak.

22. Ada pula yang berakhlak tapi tidak ber-TUHAN.

(Ali bin Abi Thalib)".

itulah 22 prediksi yang sudah terjadi dizaman ini, lalu termasuk yang manakah kita????
salam siang dari saya yang Hina....

Sunday, 21 April 2013

kesederhanaan yang mententramkan

ini adalah tulisan orang - orang bijak, yang selalu memberikan saya motivasi untuk kehidupan yang lebih baik dan kehidupan yang sempurna. kehidupan yang penuh rasa syukur atas segala nikmat dari Sang Pencipta. agar bisa menghargai dan menerima dengan apa adanya dan penuh rasa iklas semua yang telah di berikan pada kita semua. langsung aja baca artikelnya di bawah ini.
                                      

kesederhanaan yang mententramkan
Bumi cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan kita(Gandhi). Kata-kata sang Mahatma dari India itu pernah aku saksikan langsung dalam kehidupan riil suku Bajo (suku laut) yang terasing. Dengan nada bergurau mereka katakan, “ lautan ini seperti kulkasnya Tuhan. Kita boleh mengambil kapan  dan apa saja isinya, tanpa harus merasa sebagai penguasa/pemilik apalagi merusak lemari esNya.” Aku juga pernah masuk di beberapa suku di pedalaman belantara. Mereka juga tidak pernah merasa sebagai penguasa/pemilik itu hutan. Mereka justru merasa jadi bagian dari belantara. Dan mereka mencintai sekaligus menghormati tempat tinggal hidupnya itu.
            Orang-orang yang katanyanya modernlah yang kemudian mematok HPH disana-sini. Para penganut pragmatisme yang selalu ingin mencapai target tertentu, lalu entah?. Pragmatisme yang seringkali juga diartikan sebagai kesediaan bermain curang dan menghalalkan segala cara?. Orang modern yang tidak ada bedanya dengan gerombolan pengendara motor besar, yang tidak toleran dengan sesama pemakai jalan/sesama pembayar pajak. Suka rame-rame menerobos lampu merah, dikawal polisi segala.
Mereka itu sesungguhnya hanya gerombolan para pengecut dan penakut yang tak paham rahasia petualangan. Masak petualang kok dikawal. Para penganut pragmatisme dan pengendara moge itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan para pelaku bom bunuh diri. Sama-sama orang yang demam tujuan.  Orang yang ingin cepat-cepat sampai tujuan dan tidak bisa melihat dan mensyukuri keindahan dan rezeki yang dilimpahkan Tuhan disetiap langkah hidupnya. Orang yang merasa unggul tanpa dasar, suka bertingkah arogan dan meremehkan orang lain yang tidak masuk golongannya.
Saat ini banyak orang beragama/menjalankan laku spiritual karena dilandasi pemikiran pramatisme/otak pedagang. Ketika orang beribadah atau beramal dengan harapan bisa masuk Surga, jujur itu juga spiritual yang dilandasi otak dagang, spiritual penuh pamrih alias spiritual achievement.  Sudah lama aku tinggalkan spiritual sok tahu, sok pintar, sok suci, sok pasti dan sok benar sendiri seperti itu. Dan pada orang-orang sederhana yang gaptek, udik itu, justru aku kini banyak belajar tentang ketulusan dan kejujuran yang sekarang seperti jadi mahkluk langka.
Hidup tidaklah sepenuhnya merupakan perhitungan untung dan rugi. Spiritual itu tidak harus cantik, modis, sexy dan pintar, seperti SPG yang bersiasat mengambil hati orang lain dan memperoleh hasil besar karena senyum manis di bibir. Spiritual tidak ada hubungannya dengan surban, jenggot ataupun jubah. spiritual adalah soal ketulusan, kejujuran kerendahan hati, toleransi, keterbukaan, sekaligus keberanian bersikap walau harus menentang mainstream. Tidak menipu diri, bahagia dengan hidupnya dan tak pernah demam tujuan.
Pronocitro jatuh cinta pada Roro Mendut dan menikmati cinta itu tanpa peduli apa nanti hasilnya. Mereka juga siap mati demi cinta, tanpa bertanya buat apa? Untungnya apa? Ada kekonyolan disana, sekaligus kejujuran. Ada kenekatan disana, sekaligus keindahan yang tidak palsu.
Dari orang-orang sederhana itu aku banyak belajar, untuk bisa menangkap keindahan dari hal-hal sederhana yang ada disekitar langkah kita. Hidup dengan keindahan itu yang membuat kita bisa bersyukur. Bisa memberi tanpa pernah merasa kehilangan.  Merasa cukup tanpa harus menjadi serakah, seperti ketika kita memejamkan mata dan mendengar suara hujan yang mengguyur dedaunan. Tuhan menyapa kita tidak hanya lewat kitab suci dan kotbah para nabi. Tiap waktu Tuhan menyapa kita, lewat daun gugur atau kicau burung, lewat gugusan bintang-gemintang atau bening embun malam, lewat kerasnya ombak di karang atau lembutnya kabut di gunung dan sebagainya.
 Hidup di zaman yang penuh saling curiga, pragmatisme dan segalanya serba dinilai dari uang. PERCAYALAH!. Saat ini masih ada orang yang tulus jiwanya dan bebas dari ikatan materi. Orang bijak-rendah hati yang bebas dari demam tujuan. Jika selama ini anda merasa belum menemukan orang seperti itu, berkacalah! Orang itu akan langsung berdiri dihadapan anda. Anda hanya perlu untuk mengenalnya lebih dalam lagi.
Jadi kenapa harus takut jadi diri sendiri? Jika itu bisa bikin kita lebih mengerti akan rahasia-rahasia Illahi. Tuhan adalah keindahan. Dekat denganNya  akan membuat kita bisa melihat keindahan kemanapun kita memandang dan melangkah. Dan jika waktunya ajal akan menjemput kita. Kitapun kan bisa menghadapi dengan lapang dada dan senyuman dibibir. Tidak ada takut lagi, karena sudah biasa bertualang sendirian. Tidak ada gentar lagi Karena dalam kepasrahan Pada KuasaNya, segalanya indah adanya. Hidup indah matipun indah, siang indah malampun indah,  fajar indah senjapun indah, Surga indah nerakapun indah.
Kalau bisa memilih, anda akan memilih  bisa/mampu melihat keindahan Neraka, atau bisa masuk Surga tapi tersiksa. Dalam kehidupan nyata, sekarang ini banyak orang berlomba-lomba bahkan dengan menipu diri agar bisa masuk dan dicap golongannya para sosialita (surganya dunia?).  Tapi ada seorang wanita kuaya-raya yang justru merasa capek dan tersiksa hidup di dunia gemerlap yang penuh iri hati dan keserakahan itu.  Wanita itu justru kini lebih suka berkeringat menari dan melakukan meditasi untuk lebih bisa mengenal kesejatian diri.
. “Kesederhanaan itu ternyata menentramkan dan mengasyikkan.” Begitulah wanita itu pernah mengatakan. Yah,  hidup dan penampilan wanita itu  kini memang lebih sederhana dan apa adanya. Sementara untukku sendiri yang hanya seorang gelandangan, cukup meyakini ucapan RM. Sosrokartono, bahwa benar kita bisa SUGIH TANPO BONDHO!.

sumber : http://www.facebook.com/groups/20369925865/doc/10151098927000866/

konsep spiritual kaki semar

untuk memulai hari ini, saya sengaja akan memberikan sedikit penjelasan tentang salah satu konsep spiritual dari orang - orag jawa. kosep spiritual ini saya dapatkan dari berbagai sumber, setelah tanya - tanya eyang google akirnya saya dapatkan juga pembahasannya. konsep ini di namakan konsep spiritual kaki semar.  sebagaimana kita semua tahu, semar itu adalah salah seorang tokoh wayang yang sangat religius dan sangat terkenal karena tingkat spiritual yang tinggi. lalu bagai mana konsep spiritual kaki semar tersebut???  langsung aja baaca bersama yukk..

                                                         

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.
Konon Kaki Semar adalah Kakek moyang yg pertama dan digambarkan sebagai perwujudan dari orang Jawa yg pertama. Karena mendapat "tugas khusus" dari Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan YME), maka Kaki Semar memiliki kemungkinan untuk terus hadir dgn keberadaan pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yg dikehendaki.

Salah satu ajaran hidup dari Kaki Semar:

I. Gusti Kang Murbeng Dumadi
Masyarkat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atau Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur.
Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatu yang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab.
Mengenai Sang Murbeng Dumadi, Kaki Semar mengatakan “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan,jaman,bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan kata lain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali.oelh semua agama dan kepercayaan.Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain. Yang membedakanya hanya cara menyembaah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman, waktu atau bangsa yang berbeda beda…”

Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :
1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Tepo seliro” artinya bila kita meraa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.

3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatupakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain.

Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengehathui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi.

1. Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”
2. Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.
3. Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo,Mulo nang ngendi papan uga ono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “Nang awakm ugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa dan raga.Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti”maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.
4. Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi.dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampai seterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.
5. Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhan itu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.
6. Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang.maksudnya Tuhan itu maha adil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.
7. Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya,

Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

1. “Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia kaa menerima paa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan dia terima.
2. Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya.atau”manungso urip tumimbal soko biyen,nek percoyo marang tumimbal” ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihat lah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”
3. “Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri,dengki,tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan mengntungkan kita.
4. Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:”maka Manusia hiduplah “sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”.ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga”

Maka dalam hal ini Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan”Eling lan Percoyo,Sumarah lan seumeleh lan mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1. Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah ,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2. Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

3. Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.

I. Tatanan Paugeraning Urip.

Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi Kehidupanya di alam fana ini :

1. Eling Lan Bektimarang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yang sadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.dimana Allah yang Esa telah membrikan kesepantan bagi manusia untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.

2. “Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.

3. “Setyo marang Khalifatullah utowo Penggede Negoto”: maksudnya sebaia manusia yang tingal di suatu wilayah,maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarka pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

4. “Bekti marang Bhumi Nusontoro” maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlaukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.

5. “Bekti Marang Wong Tuwo” : maksudnya Manusia ini tidak dengan semerta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Bapaknya, maka hormatilah,mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita .

6. “Bekti Marang sedulur Tuwo” : Maksudnya adalah menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik dlama umur,pengetahuan maupun kemampuannya.

7. “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : maksudnya menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

8. “Tresno marang sepepadaning manungso” : maksudnya semua manusia itu sama, hanya membedakan warna kulit dan dan budaya saja. Maka hormatila sesame manusia dimana mereka memiliki harka dan martabat yang sama dengan manusia lainya.
9. “Tresno marang sepepadaning Urip” : maksudnya semua yang di ciptakan Allah adalah mahluk yang ada karena kehendak Allah yang Kuasa.memiliki fungsi masing masing.dengan menghormati semua ciptaan Allah maka kita telah menghargai dan menghormati kepada PENCIPTANYA.

10. “Hormat marang kabeh agomo “ : maksudnya hormatilah semua agama atau aliran dan para penganutnya.
11. “Percoyo marang Hukum Alam” : maksudnya selain Allah menurunkan kehidupan,Allah juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hokum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai,

12. “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : maksudnya manusia ini rapuh dan hatinya berubah ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menepatkan diri di hadapan Allah, agar selalu mendapat lindungan dan rahmat Nya dalam menjalani Hiudp dan kehidupan ini.

Tatanan Paugeraning Urip yang 12 di atas di ringkas menjadi tiga konsep:

1. Hubungan Manusia dengan Allah/Tuhan Yang Maha Esa
2. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia
3. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta.

Kesemua tatanan di tersebut di atas adalah kaitannya dengan konsep “tatanan Menembah”

1. Sangkan Paraning Dumadi : yaitu Sangkaning Dumadi dan Paraning Dumadi dimana maksudnya adalah agar manusia mengetahui dari mana dia berasal dan mau kemana dia akan kembali.

2. Manunggaling Kawulo lan Gusti : yaitu manunggaling kawulo dengan Gusti adalah dengan melakukan smeua perintahnya, melakukan dan menuruti peraturan peraturan yang di perintakan dengan sbeaik baiknya.

3. Kasedan Jati : yaitu dimana posisi kesadaran manusia sampai kepada tataran sangat menyadari dan telah melakukan atau menjalani kehidupan yang di sebutkan di atas sehingga semua telah menuruti kehendak Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan istilah “Hidup sekali dan mati pun sekali “

II. Tuntunan Sikap terhadap Paugeraning Urip

Kaki Semar menuntunkan sikap terhadapt Paugeraning Urip adalah dengan Kata sesanti atau Petuah “OJO DUMEH,ELING LAN WASPODO”karena :

1. “Ojo dumeh, Eling lan waspodo” adalah bekal manusia menghadapi ujian dan perjuangan hidup dan menjadi senjata ampuh untuk menjadi kesatria utama dalam menaklukan dirinyasendiri dan mewujudkan “Roso setyo lan mituhu dumateng Gusti” serta untuk “ Hamemayu Hayuning Bawono”.

2. “Ojo dumeh, Eling lan Waspodo” adalah sebagai penyeimbang, sehingga pada kondisi maupun situasi apapun manusia akan selamat”Rahayu”, tidak mudah panic dalam setiap pemecahan masalah yang di hadapinya.

3. “ojo dumeh, Eling lan Waspodo”sebagai sarana pencegahan terhadap kecerobohan dan kelalaian yang sering manusia lakukan, karena telah menyadari dan memahami serta mentaati semua kaidah Agama, Budi pekerti, maupun aturan aturan manusia lainnya.

OJO DUMEH yang maksudnya “Jangan Mentang Mentang” adalah suatuperingatan agar manusia tidak larut dengan pa ayang di miliki atau di jalaninya, sehingga cendrung menjalani keputusan hidup yang negatip seperti :

1. Mentang mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat di beli dengan uang,
2. Mentang menatng Miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya..


Siapa yang “mentang mentang” maka suatau saat akan menjadi sebagaimana dalma pribahasa Jawa :
1. Sopo sing Dumeh bakal keweleh
2. Sopo sing adigang bakal keplanggrang
3. Sopo sing Adigung bakal kecemplung
4. Sopo sing Adiguno bakal ciloko
5. Sopo sing Becik bakal ketitik
6. Sopo sing salah bakal seleh
7. Sopo sing Temen bakal Tinemu

Eling Lan Waspodo maksudnya Ingat dan Waspada.

Ingat yang dijalani adalah inget dalam kaitan Menembah kepada Tuhan, ingat akan karunianya, Rahmanya,Nikmatnya , selalu ingat akan kesalahan kita kepada Tuhan, pelanggaran yang kita lakukan dan meminta ampunan kepada Nya. Dengan demikian akan lahirlah Budi perkerti yang luhur sehingga Eling ini akan melahirkan kepedulain kepada manusia dan lingkungan sekitarnya.

Waspodo/Waspada adalah bentuk ke hati-hatian manusia dalam menjalankan hidup, teliti dan mengakibatkan kita menjadi Wara dalam memilih dalam keputusan kita sehari hari. Berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku. Mana yang merupakan perintah dan mana yang merupakan larangan akan menjadi terang dan jelas bagi kita.sehinga kta akan selamat dalam perjalanan hidup ini.

Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo merupakan satu kesatuan yang dipahami secara utuh, sehingga manusia di harapkan menjadi Pasrah dan Yakin Kepada Kekuasaan Tuhan serta menjadi bijaksana,sederhana dan hati hati. Manusia menjadi “Bisa Merasa.” Bukan ”Merasa Bisa.”

Dengan “Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo”, maka dalam bahasa Jawa disebutkan ..
1. Ono Luwih,Luwih soko Ono
2. Kang Kebak,Luwih dening kebak
3. Kang suwung,Luwih dening Suwung
4. Kang Pinter, Luwih dening Pinter
5. Kang Sugih, Luwih dening Sugih..


Rahayu.....rahayu....rahayu....
original post by kaskus.co.id




Posting Lama ►
 

Copyright © 2013. Pengembara Sukma -